Dear diary,
Kalau boleh komentar mengenai diri rasanya kata “munafik”
sudah melekat dalam diriku. Mengapa? Aku yang selalu bilang aku sudah lama
melupakan sosok dia karena memang kita sudah lama berpisah, nyatanya tidak
seperti itu yang ku rasa. Rasanya aku sangat bersemangat jika ada orang lain
yang mengajakku bicara untuk membahas tentangnya, dengan begitu aku dapat
mengobati rasa kangen yang setiap hari semakin membesar semenjak perpisahan
itu. Memang setelah perpisahan itu, aku sudah dua kali mencoba tuk menjalin
cerita dengan yang lain. Namun tak dapat bertahan lama, dan tetap saja perasaan
untukmu belum hilang. Dan kau pun sudah beberapa kali menjalin cerita dengan
orang baru. Berbeda. Aku sudah sering mendengar kata itu yang kini telah
menggambarkan kamu yang sekarang. Mereka bilang kini kamu “sok”, “belagu”, dan
“gampang pindah hati”. Kata-kata sejenis itu yang sering mampir di telingaku.
Awalnya aku tidak percaya. Aku selalu mengelak setiap informasi mengenai kamu
dari orang-orang. Aku selalu meyakinkan pada diri sendiri “Aku tahu kamu, aku
kenal bagaimana kamu, dan kamu tak mungkin seperti itu”. Rasanya informasi dari
orang orang yang intinya selalu menggambarkan perubahan kamu yang sekarang
semakin banyak, namun itu tak mampu mengubah kesan yang sudah kamu buat dan
telah melekat dalam diri tentang kamu sampai aku harus mengalaminya sendiri.
Sampai suatu hari, kamu menitipkan salam melalui teman sekelasku. Jujur aku
senang mendapatkan berita itu. Namun di sisi lain, temanku bercerita bahwa kamu
tidak menganggapku sebagai masa lalumu. Kamu bilang “kalo mantan mah dulu
sekarang sahabat”. Dari cerita itu aku langsung dapat membayangkan bagaimana
ekspresi kamu saat mengatakan kata yang cukup menyayat hati itu. Dan aku sudah
hafal betul bahwa itu sebagai reaksi kamu ketika dalam posisi tersudut dan
untuk melindungi diri. Ya aku kenal sekali ekspresi tersebut. Namun mengapa
kamu berkata seperti itu? Mengapa kamu tega mengatakan hal seperti itu? Tak
pernah menganggapku padahal aku selalu menganggapmu ada. Apakah itu berarti
kamu tak mau mengakui cerita yang dulu pernah kita buat bersama? Apakah kamu
malu pernah memiliki aku yang tak seperfect pacar-pacarmu sekarang? Pertanyaan
tersebut selalu hinggap dalam benakku dan bahkan sampai saat ini pun aku belum
mendapatkan jawabannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar